Politik Silaturahmi VS Money Politik

Foto: Achmad Shodiq SH, MH

SIDOARJO |Jatimupdate.com| –  Sebagai Aktivis, Konsultan Management, Praktisi Hukum dan Caleg, saya ingin menyampaikan pendapat saya.

Setelah mengikuti Kontestasi Pemilihan Anggota DPRD kabupaten Sidoarjo pada PEMILU tahun ini masa Bhakti Anggota DPRD kabupaten Sidoarjo periode 2019 – 2024.

Berbulan – bulan lamanya saya di sibukkan dengan kampanye, sosialisasi, dan silaturahmi kepada masyarakat di Dapil.

Dalam masa itu saya Mendapati cara-cara Caleg lain dari seluruh unsur partai tanpa terkecuali untuk memperoleh suara masif di lapangan dengan cara  sebagai berikut:

  1. Dengan Turun langsung ke masyarakat (Silaturahmi , memperkenalkan Figur Caleg ke masyarakat bawah dengan konsep kerja nyata, siap bekerja tanpa menunggu Jadi Legislator dengan memberikan solusi dan berjuang sesuai kebutuhan masyarakat, menjalin dan membangun hubungan emosional Masyarakat dengan calon wakil rakyatnya tanpa membeli suara (Money Politic).

Hasilnya sangat positif. (situasi cenderung sejuk tanpa angkara, emosional dan ambisius dalam menyikapi segala hal terkait isue di masyarakat, menyikapi proses penghitungan suara di TPS, dan suara yang di dapat juga cukup banyak)

2. Suara yang di dapat dengan cara Money Politik (Jual Beli Suara) karena di  anggap sudah menjadi kebiasaan dan budaya pragmatisme di dalam masyarakat, yang biasa di sebut dengan Serangan Fajar, Bukan Rahasia lagi, semua sudah tahu meski di lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, yang di lakukan oleh para caleg dari seluruh Partai.

Perilaku ini sungguh sangat ironis, krisis moral dan martabat sebagai bangsa indonesia.

Karena Masyarakat dan Caleg nya telah mengajarkan pada ahli waris bangsa ini sebuah pendidikan kotor, tak bermoral dan tak bermartabat.

Sehingga menjadi budaya di tiap-tiap pemilu Presiden, Gubernur, Bupati, DPR dan DPRD plus DPD bahkan pemilihan Kepala Desa, masyarakat selalu berharap adanya amplop yang di anggap suatu keberkahan untuk memilih sesuai arahan tim sukses dan korlap-korlapnya.

Ada masyarakat yg mengambil amplopnya tapi tidak memilih, ada juga memilih karena isi amplopnya, hasilnya sangat signifikan untuk suara yang di dapatkan

Ironisnya bila suara tidak sesuai harapan,  maka caleg, Tim sukses nya dan korlap-korlapnya akan membuat keributan disaat proses penghitungan suara di TPS, karena sudah merasa mengeluarkan anggaran besar untuk beli suara ternyata tidak sesuai harapan di lapangan.

Selain proses kotor,  cara-cara ini juga akan memutus silaturahmi hubungan antara wakil rakyat dan rakyatnya.

Dan pada gilirannya semua hanya menunggu waktu, menunggu akibat dari sebuah sebab. “tunggu akibatnya, bangsa dan negara, daerah provinsi dan kabupaten akan terjadi malapetaka, yang di akibatkan kerusakan moral Pejabatnya karena harus mengembalikan dana yang di keluarkan, yang akan semakin menambah potensi para pejabat pelaku tindak pidana Korupsi.

Selain hal di atas, sebab yang dapat di akibatkan dari Proses Money Politik adalah kinerja Dewan yang tidak maksimal, terjadinya banyak perbuatan Inkonstitusional yang penting mendapatkan uang, dan rakyat yang mencoblos Caleg tersebut dan menjadikannya anggota dewan akan kesulitan mengakses wakilnya, menghubungi atau bersilaturahmi, mendapatkan informasi, mendapatkan anggaran yang seharusnya di terima oleh masyarakat, karena antara Caleg dengan Masyarakat yang memilih tidak kenal secara emosional melainkan hanya kenal amplop dan kertas suaranya.

Mari kita semua yang masih  peduli pada nasib bangsa ini, untuk bersama sama terus berjuang tiada henti untuk menyadarkan masyarakat bahayanya money politik bagi bangsa dan negara  dan bagi lingkungan masa depan.

Karena kebaikan, dan masa depan bangsa dan negara sangat di tentukan oleh wakil rakyat yang di pilihnya, bila negara dan sistem nya sudah baik, maka kita semua akan mewariskan kepada anak cucu kita proses berbangsa dan bernegara dengan penuh kebaikan, politik yang santun, terbuka, dan tentunya menghindari Korupsi karena dampak Money Politik.

Satu hal yang sangat penting adalah bila di lakukan dengan cara Politik Silaturahmi,  rakyat butuh wakil sebagai cantolan aspirasi terkait segala bentuk permasalahan, dan berbagai kesulitannya yang bisa diakses langsung oleh masyarakat melalui wakil yang sudah di kenalnya tanpa PROSES JUAL BELI SUARA (Money Politic)

Demikian catatan singkat, semoga ke depan antara Caleg dan Masyarakat semakin cerdas, dan semakin maju, bahwa pemilu adalah bagian dari proses untuk kemajuan bangsa dan daerahnya untuk masa depan anak cucu kita kelak, bukan sebagai sarana ajang menghambur-hamburkan harga diri untuk di beli dengan uang Recehan dalam pelaksanaan “pesta” Demokrasi di indonesia

Penulis :
ACHMAD SHODIQ, SH.MH
(Caleg DPRD Sidoarjo No.10 Partai Demokrat Dapil I Sidoarjo Buduran dan Sedati)
Aktivis ,Konsultan Hukum dan Management’ Praktisi Hukum dan Bisnis.

[Redaksi/ J Update]

 

40 Views
(Visited 127 times, 1 visits today)
Politik Silaturahmi VS Money Politik

Apakah Anda Setuju ?

Terima Kasih Atas Atensi Anda

Author: JATIMUPDATE

REDAKSI